Cinta Pertama
Cahaya pagi menyinari kota dengan terangnya, pepohonan sejuk menyambut pagi yg cerah, langit begitu cerah dan sangat biru, mungkin yang ada di pikiran Berto remaja laki laki yang duduk di bangku kelas 10 sekolah menengah atas, pria yang memiliki tampang pas-pasan dengan perut yang agak buncit kulit coklat hidung pesek, ya bisa dibilang bukan kriteria cewek-cewek, tapi walaupun begitu Berto dalam memilih cewek yang dia suka Cuma memilih cewek-cewek cantik saja atau cewek yang naksir karena hal tersebutlah. Berto tidak pernah punya pacar, dia merasa bahwa walaupun dengan wajah yang pas-pasan mungkin dia bisa mendapatkan wanita impiannya tapi semua itu belum terbukti, hingga suatu saat ada kejadian yang membuat hidupnya berubah, kejadian itu membuat ia ditaksir oleh salah seorang cewek populer di sekolahnya tanpa diketahuinya, Dan ternyata cewek itu adalah Tiara cewek kelas 10 IPA 2 dia adalah salah satu cewek populer di sekolah tersebut, cowok-cowok banyak yang antri untuk menjadi Pacarnya, tapi dari berjuta-juta kata-kata puisi yang dikeluarkan seluruh cowok yang ngefans sama dia tidak ada yang mampu menggetarkan hatinya.
Suatu hari selesai jam pelajaran sekolah tanpa sengaja Berto bertemu dengan Ira di tempat parkiran sekolah, Sebenarnya Ira ada di tempat parkir sekolah karena pada saat itu hujan turun dengan derasnya jadi Ira yang sedang menunggu jemputannya mencari tempat untuk berteduh dan dia pun memilih tempat parkiran untuk bertuduh dan tempat menunggu jemputan, tanpa disengaja di tempat parkir ada Berto yang sedang menunggu hujan berhenti, tanpa bertegur sapa dan berbicara pertemuan tersebut terasa sangat senyap, mereka berdua hanya sibuk dengan diri mereka sendiri, sore itu sekolah udah sepi karena siswa lain sudah pada pulang, kebetulan jadwal giliran piket pembersihan kelas Berto dan Ira pas hari itu jadi mereka agak telat pulang.
Setelah beberapa lama menunggu berhentinya hujan di tempat parkir tiba-tiba ada kucing yang melompat dari atas atap parkiran dan nyungsup di tumpukan kayu bekas pembuatan atap parkiran secara refleks. Berto dan Ira tiba-tiba bergegas menolong kucing yang terjebak di tumpukan kayu tersebut, tanpa disengaja tangan Berto dan Ira saling bersentuhan saat mencoba mengeluarkan kucing tersebut dari tumpukan kayu tersebut.
“eh maaf” Berto secara spontan mengucap maaf ke Ira karena memegang tangannya,
“oh nggak apa-apa kok, aku juga Cuma mau nolong kucing ini” sambil tersenyum ke arah Berto,
Wajah Berto pun langsung memerah karena menatap wajah Ira dari dekat’
“eh muka kamu kenapa merah” Ira bertanya karena melihat wajah Berto yang tiba-tiba memerah,
“ah nggak apa-apa kok ini udah biasa” jawab Berto.
Mereka berdua kemudian bersama-sama mengeluarkan kucing yang sedari tadi mengeong karena kesakitan terhimpit tumpukan kayu, akhirnya kucing itu pun bisa dikeluarkan oleh mereka berdua, kucing tersebut pun dilepas kembali.
kok kamu mau sih nolong kucing itu” tiba-tiba Ira bertanya kepada Berto
“kan kucing itu lagi kesusahan, ya harus ditolong lah” balas Berto,
“tapi biasanya kan cowok nggak peduli ama begituan malah biasanya Cuma diketawain dan nggak ditolong”, tanya Ira lagi,
“nggak semua cowok kayak gitu kali” sambil nyengir ke Ira,
“ya aku Cuma berpendapat” balas Ira,
“ya aku juga nggak bisa bilang pendapat kamu salah sih, karena biasa cowok memang nggak peduli dengan hal begituan hehehe” jawab Berto sambil ketawa.
Tanpa terasa perbincangan yang dimulai karena menolong kucing itu berlanjut hingga hujan berhenti, bersamaan dengan itu jemputan yang ditunggu Ira dari tadi pun datang,
“wah hujan udah redah nih” kata Berto sambil menjulurkan tangannya keluar parkiran,
“eh iya ya, kebetulan jemputan aku juga udah datang” balas Ira sambil menunjuk jemputannya.
Berhentinya hujan Berto langsung menyalakan motornya yang sedari tadi ada di sampingnya, begitupun dengan Tiara yang langsung menuju ke jemputannya, pertemuan tersebut pun berakhir tanpa kata perpisahan. Ira yang sudah naik di mobil tiba-tiba turun kembali karena belum menayakan siapa nama cowok yang sedari tadi menemaninya berbincang di tempat parkir, tapi Berto sudah tidak ada di parkiran.
Sesampainya di rumah Ira langsung ke kamarnya, ketika di kamar Ira dalam hati selalu bertanya-tanya siapa cowok yang di parkiran tadi, kelas berapa si dia, di kepala Ira dipenuhi dengan banyak pertanyaan tentang siapa si Berto yang tanpa disadarinya itu membuat ia naksir sama Berto di sisi lain Berto hanya merasa hari-harinya seperti biasa. Entah mengapa pertanyaan tentang Ira tidak ada dalam benaknya padahal biasanya kalau ada cewek cantik yang di dekatnya dan berbicara dengannya dia langsung baper dan menganggap cewek itu ada rasa ke dia walaupun sedikit, tapi beda dengan Ira pikiran semacam itu tidak ada di dalam benak Berto.
Keesokan harinya sekolah Berto menjalankan kegiatannya seperti biasa tanpa mengetahui bahwa dia telah ditaksir oleh salah satu cewek populer di sekolah, di sisi lain pada jam istirahat Ira yang sedari kemarin bertanya-tanya siapa gerangan cowok yang bersamanya kemarin di parkiran, ia mencari-cari Berto di tiap sudut sekolah. Tapi seperti biasanya selalu ada cowok yang goda-godain Ira di sekolah salah satunya Steven cowok terpopuler kelas 10 IPS dan terkenal dengan julukan sangar, Steven
yang sedang nongkrong di depan kelasnya melihat Ira yang mondar mandiri seperti sedang mencari sesuatu kemudian mendekati Ira,
“hallo Ira cantik” menegur Ira,
“Apa sih” sambil melihat sinis ke Steven,
“eits masa cewek cantik jawabnya kayak gitu” smbil nyengir ke Ira,
“au ah gelap” jawab kesal Ira kepada Steven,
Tak lama kemudian orang yang dicari-carinya pun lewat di depannya, “Hei kamu” teriak Ira ke arah Berto,
“aku” jawab Berto sambil menunjuk dirinya sendiri,
Tanpa menghiraukan Steven yang ada di dekatnya Ira langsung menuju ke tempat Berto berdiri,
“kamu kan yang kemarin di parkiran” bertanya ke Berto,
“oh yang pas hujan itu ya” Berto dengan gaya mengingatnya,
“iya pas hujan lalu ada kucing yang jatuh dari atap dan yungsep di tumpukan kayu” balas Ira,
“ya ya ya aku ingat” jawab Berto sambil senyum,
“kita kan belum kenalan, nama aku Ira” sambil menyodorkan tangannya,
“oh iya nama aku Berto” sambil menjabat tangan Ira
Melihat keadaan tersubut Steven yang sedari tadi mengamati keduanya dari kejauhan kemudian mendekat,
“oi siapa lu berani-beraninya deketin Ira gue” Steven sambil mendorong bahu Berto,
“apaan si kamu” teriak Ira ke Steven
Karena kelakuan Steven tadi Ira menarik tangan Berto dan membawanya pergi dari tempat tersebut ke tempat yang jauh dari Steven, Berto yang dari tadi terdiam karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hanya mengikuti Ira
“Siapa sih cowok tadi pacar kamu?” sambil menhentikan langkah Ira,
“siapa, yang tadi, bukan lah” Jawab Ira,
“jadi siapa dong cowok tadi, kok kayaknya dia nggak suka banget kalau kamu sama aku” tanya Berto lagi ke Ira,
“dia itu cowok yang suka godain aku” jawab Ira dengan wajah masam karena mengingat Steven,
“oh cowok yang suka godaain kamu toh, tapi wajar sih kalau kamu digoda” sambil senyum ke Ira,
“maksud kamu?” tanya Ira ke bingungan,
“ya kan kalau cewek cantik kayak kamu ya pasti banyak mau godaain hehehe” jawab Berto sambil tertawa kecil ke Ira,
“jadi maksud kamu aku cantik gitu” tanya Ira lagi ke Berto sambil tersenyum
“bu… bu… bukan begitu maksud aku” tiba-tiba Berto jadi gagap bicara dan wajahnya memerah,
“kenapa wajah kamu memerah” tanya Ira ke Berto sambil tersenyum,
“ini… ini…aduhh” Berto masih gagap berbicara
“ah kamu biasa aja kali Aku Cuma bercanda kok” ucap Ira untuk mencairkan suasana
Setelah beberapa lama berbincang tanpa terasa bel masuk sudah berbunyi
“wah udah bell nih” ucap Berto
“oh iya balik ke kelas yok” ajak Ira ke Berto,
“ok kita balik ke kelas masing-masing” jawab Berto
Tapi sebelum balik ke kelas Ira mengajukan Suatu pertanyaan yang tak pernah disangka Berto
“Berto…” teriak kecil Ira memanggil Berto yang sudah agak jauh mau ke kelasnya,
“iya ada apa” Berto ke tempat Ira berdiri,
“kalau pulang nanti kita bareng ya” tanya Ira sambil malu-malu
“oh bisa kok, aku juga sendiri kok” jawab Berto dengan polosnya
Mereka berdua pun kembali ke kelas masing-masing
Akhirnya bel pulang berbunyi, Berto yang ditanya ingin pulang bareng menunggu di depan sekolah, dari jauh Ira sudah kelihatan menuju ke depan sekolah tapi, dari jauh ada orang yang mengintai Berto dia adalah Steven, cowok yang dari dulu naksir sama Ira, dia sedang terbakar api cemburu pikirannya sedang kacau dan di dalam hatinya iya ingin melenyapkan siapa saja yang mendekati Ira, dan terbersitlah suatu ide untuk menabrak Berto, dari kejauhan Steven bersiap menabrak Berto yang ada di depan sekolah menunggu Ira, Steven menginjak dalam-dalam gas dan melajulah mobilnya dengan sangat kencang ke arah Berto yang sedang berdiri di dekat motornya, tapi dari kejauhan Ira melihat mobil Steven yang melaju kencang ke arah Berto kemudian berlari ke arah Berto dengan kencang dan segera mendorong Berto alhasil yang tertabrak adalah Ira, dan Berto yang terjatuh kemudian bangkit dan menuju ke Ira yang sedang tergeletak di jalan.
“Ira kamu nggak apa-apa” ucap Berto ke Ira yang sedang sekarat bersimbah darah
“sebenarnya aku cinta sama kamu” ucap Ira ke Berto dengan sisa tenaganya
“iya aku juga cinta sama kamu” jawab Berto sambil menitikan air mata
Mendengar kata tersebut Ira menutup mata sambil tersenyum bahagia.
Komentar
Posting Komentar